Judul buku : Mengubah Takdir
Penulis : Agus Mustofa
Penerbit : Padma Press
Jumlah halaman : 239 halaman
Jumlah bagian/bab : 6 bagian/bab
Jumlah sub bagian/bab : 26 sub bagian
Bagian I Takdir dan Nasib
1. salah kaprah
konsep pemahaman takdir yang salah kaprah karena menyamakan antara takdir dan nasib, hal ini menjadikan pemahaman akan takdir menjadi negatif.
Banyak orang yang tidak mau membahas tentang takdir karena pemahaman yang negatif tadi, mereka menganggap bahwa takdir adalah ketetapan alah yang tidak bisa diubah oleh makhluknya, tidak boleh protes.
Salah kaprah tentang pelarangan membahas takdir mungkin berasal dari sebuah hadis yang mengatakan:
...”jika ada yang berbicara tentang takdir diamlah..” menurut penulis pemahaman “diam” di sana bukan berarti tidak boleh membahas tetapi lebih kepada keseriusan atau penegasan perhatian, seperti diam ketika ada orang mengumandangkan Al Quran
2. Rezeki, Jodoh dan Kematian
Masalah Rezeki, Jodoh dan Kematian merupakan contoh kasus yang sering digunakan dalam memahami konsep takdir, inilah yang sering merancukan umat islam dengan pemahaman nasib.
Menurut konsep nasib. Rezeki, Jodoh dan Kematian adalah hal mutlak sebelum manusia dilahirkan karena itu kita tidak bisa mengubah segala hal yang berhubungan dengan ketiga hal tersebut (Rezeki, Jodoh dan Kematian) baik perolehannya, waktunya atau hal lainnya. Apabila ada orang ditakdirkan kaya maka apapun yang dikerjakannya dia akan tetap kaya walau hanya malas-malasan begitu pun sebaliknya dengan yang ditakdirkan miskin.
Ini merupakan kesimpulan yang tidak bisa masuk akal dan susah untuk dipahami tidak ada dalam kenyataan hidup atau dalam Al Quran yang menjelaskan orang yang malas -malasan menjadi kaya raya sedangkan Allah tidak menyukai orang yang malas-malasan dalam hal apapun termasuk dalam mencari rezeki.
dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.
apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Bagi orang-orang yang mempepercayai konsep nasib mereka percaya bahwa rezekinya telah ditentukan sebelum mereka lahir, padahal kenyataan di sekitar kita menunjukkan bahwa besar kecilnya rezeki seseorang ditentukan oleh usaha yang dilakukan jadi tidak mutlak ditentukan sebelum kelahiran.
Dengan demikian Allah menetapkan takdir kita setelah kita melakukan usaha.
18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.
19. dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
20. kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu[849] Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.
[849] Yang dimaksud baik golongan ini maupun golongan itu ialah mereka yang tersebut dalam ayat 18 dan 19 di atas.
untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja"
Dalam hal jodoh
Sama halnya dengan rezeki jodoh pun tidak ditetapkan sebelum kelahiran tetapi tergantung usaha kita .
Ada ungkapan ‘ kalau jodoh takkan kemana’ hal itu seakan mengatakan tidak perlu repot mencari jodoh toh kalau sudah jodohnya akan datang sendiri.
dalam kenyataannya kalau kita tidak mencari pasti tidak ketemu, kalau tidak mencari jodoh yang baik pasti akan ketemu yang jelek .
kata jodoh dan berjodoh tidak akan anda temukan dalam al Quran perjodohan adalah sebuah pilihan bukan sebuah ketetapan.
33. dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka[1036], jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu[1037]. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari Keuntungan duniawi. dan Barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu[1038].
[1036] Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, Yaitu seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan Perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima Perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi Perjanjian itu dengan harta yang halal.
[1037] Untuk mempercepat lunasnya Perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.
[1038] Maksudnya: Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu, selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.
Soal Kematian
Kita berpendapat bahwa Kematian kita telah ditentukan allah sebelum kelahiran kita baik waktu atau caranya. Dengan kata lain tidak akan berpengaruh apa-apa kita menjaga kesehatan kita terhadap umur kita.
Ada pendapat penelitian yang mengatakan bahwa usia harapan hidup di negara maju dan makmur berbeda dengan di negara miskin di negara miskin rata-rata 50 th sedangkan di negara maju bisa 70 th
Bahkan allah melarang seseorang untuk bunuh diri, ini menujukan bahwa Kematian bisa diusahakan
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
[287] Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.
3. Konsep yang kontraproduktif
Banyak kalangan islam yang berpendapat bahwa manusia tidak memiliki peran bebas dalam menentukan takdir, mereka yakin bahwa rezeki, jodoh dan Kematian kelahirannya telah ditentukan sebelum kelahiran. Konsep takdir memberikan motivasi positif sedangkan konsep nasib cenderung negatif.
Takdir cenderung mengajarkan tegar, dinamis dan kreatif dalam menjalankan hidup sedangkan nasib cenderung pasrah, statis dan malas.
Takdir cenderung produktif sedangkan nasib lebih ke kontra produktif.
Bagian II RUKUN IMAN
1. IMAN BUKAN SEKEDAR PERCAYA
Beriman kepada takdir bukan hanya percaya begitu saja, tetapi harus memiliki pemahaman dan bertumpu pada akal dengan kata lain jangan ikut-ikutan.
36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
beriman merupakan proses secara aqli, jadi penempatan takdir sebagai rukun iman mengandung arti bahwa kita harus lebih menggali dan memahaminya untuk mempercayainya bukan sebaliknya hanya percaya begitu saja.
2. TAKDIR : RULE OF THE GAME
kehidupan di dunia hanyalah permainan dan takdir merupakan salah satu aturan mainnya yang merupakan mekanisme sunatulloh. sehingga di dalamnya dikenal istilah menang dan kalah.
Orang yang banyak berbuat kebajikan itulah pemenangnya dan yang kalah sebaliknya hadiah bagi yang menang adalah surga dan yang kalah neraka
Untuk jadi pemenang orang harus bekerja keras bahkan berlomba untuk berbuat kebajikan.
36. Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.
Banyak orang menunggu datangnya hidayah alias petunjuk secara gratis tanpa usaha dan upaya padahal hidayah datangnya hanya kepada orang-orang yang mencari dan berusaha menemukannya.. petunjuk tidak diberikan kepada orang-orang yang zalim, kafir dan fasik
9. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.
[670] Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.
Konsep takdir pun menjadikan kita lebih proporsional dalam menyikapi akibat perbuatan yang kita lakukan artinya kita tidak merasa bergembira secara berlebihan apabila dikaruniai rahmat dan tidak putus asa apabila diberi kegagalan
36. dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.
3. konsep klasik
ada 3 kutub dalam pemahaman takdir secara klasik yaitu
· jabbariyah
· mu’tazilah
· qadariyah
jabariyah
pada abad ke-2 h, tokohnya diantaranya Thalut bin A’shom, dari kalangan yahudi
pahamnya adalah takdir mutlak Kewenangan sang khalik
mu’tazilah
sekitar tahun 699-749 m tokohnya Khudzaifah bin atho Al Gazali
pahamnya adalah takdir merupakan kehendak kebebasan mutlak manusia
qadariyah
689 m tokohnya diantaranya ma’ bad al jauhani al bhisri dan al jaddu bin dirham
Pahamnya adalah.............................. bersambung..........
0 komentar: