Terpesona di Sidratul Muntaha download eBook

Diposkan oleh download driver Kamis, 01 Oktober 2009

download eBook

 terpesona di sidratul muntaha

Terpesona di Sidratul Muntaha

Bukan hanya matahari atau bintang-bintang yang bergerak secara berirama dalam satu gugusan. Melainkan, galaksi-galaksi itu pun bergerak “berotasi dan revolusi“ mengelilingi sebuah galaksi yang sangat besar. Tidak kurang dari 100 miliar galaksi diperkirakan bergerak berirama membentuk gugusan galaksi yang disebut Supercluster. Lagi-lagi kita melihat sebuah orchestra alam semesta yang luar biasa dahsyatnya, dalam sebuah parade triliunan matahari yang ‘menari-nari’ dengan cantik sekali.

… disinilah manusia mulai merasakan situasi ‘kritis’ atas pemahamannya terhadap alam semesta. Mereka dihadang oleh sebuah ‘Kekuasaan’ dan ‘Kecerdasan’ yang Sangat Misterius, yang sedang menggelar sebuah Orkestra Maha Dahsyat dalam skala yang tidak terbayangkan …Subhanallah …

Kutipan diatas merupakan sebagian kecil dari sekian banyak kalimat ‘indah’ yang bertebaran dalam buku ini, yang melukiskan tanda-tanda kebesaran Allah, Dzat Yang Maha Suci dan Maha Perkasa, tiada bandingnya di jagat semesta. Melalui ‘lukisan-lukisan indah’ itu penulis mencoba menelaah peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah SAW melalui pendekatan ilmu dan teknologi serta keselarasan antara dalil naqli dan aqli. Berbagai pemahaman dan kemusykilan yang sering kita dengar mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj dijelaskan dengan sangat gamblang dan sistematis.

Dimulai dari pembahasan mengenai ISRA’, dimana pembaca diajak memahami hikmah dibalik firman Allah dalam QS. Al-Isra’(17):1; “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Penulis menguraikan pemahamannya mengenai ayat ini dengan berlandaskan pada berbagai tinjauan sains modern, dimulai dari proses annihilasi dimana badan Rasulullah SAW diubah menjadi badan cahaya untuk mengimbangkan kualitas badan beliau dengan Jibril dan Buraq. Kemudian Jibril mengoperasi hati Rasulullah dan mensucikannya dengan air Zam-zam, yang dimaksudkan untuk memanipulasi sistem energi dalam tubuh Beliau, sampai dengan berangkat dan melesat dengan kecepatan cahaya, sehingga perjalanan sejauh 1500 km itu dapat ditempuh hanya dalam waktu 0,005 detik saja. Perjalanan itu adalah sebuah perjalanan misterius yang sangat dahsyat yang mengandung pelajaran sains dan teknologi mutakhir, yang bermakna sebagai sebuah proses untuk mengenal dan mendekatkan diri kita kepada Allah, Sang Penguasa Alam Semesta.

Selanjutnya, dalam bab MI’RAJ penulis menggunakan informasi-informasi yang Allah sampaikan dalam Al-Qur’an maupun ilmu astronomi dan pengetahuan ruang angkasa untuk menjelaskan mengenai langit yang berlapis tujuh, bagaimana Rasulullah SAW bisa melakukan perjalanan menembus langit pertama sampai ketujuh (yang disebutnya sebagai perjalanan dimensional), sampai dengan apa yang terjadi ketika Beliau berada di Sidratul Muntaha. Pembahasan dalam bab ini terasa sangat memikat, sehingga seolah-olah kita ikut merasakan perjalanan melintasi langit yang tujuh dan menyadari kebesaran Sang Maha Pencipta, Kreator Agung Alam Semesta ini.

… Sampai di sini, Rasulullah SAW bersimpuh, di hadapan Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Beliau bersimpuh dalam kepasrahan yang sangat mendalam. Kepasrahan total setelah memahami dan menyaksikan sendiri betapa Agungnya Allah, Sang Maha Perkasa. Seluruh kesadaran Beliau mengembang ke seluruh alam semesta yang tujuh, larut dalam Kebesaran dan Keagungan Allah Azza wa Jalla …
‘OLEH-OLEH’ DARI SIDRATUL MUNTAHA

Pada umumnya ulama bersepakat bahwa oleh-oleh yang dibawa Rasulullah SAW sepulang dari Isra’ Mi’raj adalah perintah sholat 5 waktu. Namun dalam buku ini diuraikan bahwa pada hakekatnya perjalanan Mi’raj Rasulullah SAW menembus berbagai batas langit sampai ke langit ketujuh dapat dimaknai sebagai perjalanan spiritual melintasi berbagai dimensi yang menghasilkan pelajaran kekhusyukan dalam sholat, dimana kekhusyukan beliau itu telah memberikan penglihatan-penglihatan yang menakjubkan di setiap perpindahan dimensi.
Dengan kata lain, bila kita menginginkan sholat yang khusyu’, kita dapat meniru proses yang terjadi pada Rasulullah SAW saat mengalami Isra’ Mi’raj.

Beberapa hal yang terjadi pada Rasulullah SAW yang terkait dengan kekhusyukan sholat, diantaranya:

  • Menghilangkan beban-beban pikiran yang berkaitan dengan pekerjaan, kekuasaan, dan kecintaan kepada dunia
  • Mensucikan hati kita dengan air yang suci
  • Mengambil jarak dari keseharian
  • Bergerak lintas dimensi dalam sholat (meningkatnya kekhusyukan sholat kita, dari dimensi yang bersifat Duniawi sampai ke dimensi yang semakin Ukhrawi)

Terpesona di Sidratul Muntaha

Jika kita berhasil mempertahankan suasana khusyuk menyelimuti sholat kita, maka suatu ketika di puncak kekhusyukan itu, kita akan merasakan suatu kondisi yang sangat misterius, yang oleh penulis disebut sebagai ‘terpesona’. Suasana hati yang kita capai pada waktu itu merupakan perpaduan antara rasa tenteram, damai, ikhlas, sabar, cinta, indah, puas, dan kagum, tapi sekaligus ada rasa misterius dan ingin tahu lebih jauh. Dalam hal sholat, rasa terpesona itu baru bisa muncul ketika kita melakukan interaksi dengan Allah.

… ketika takbiratul ihram itu meluncur dari lidahku

seluruh jiwa ragaku tiba-tiba lenyap dalam KebesaranMu

sungguh aku tak tahu apakah aku telah sampai di langit yang ketujuh sebagaimana rasulMu …

sangat boleh jadi aku tak pernah beranjak dari duniaku

tapi bukankah ENGKAU MELIPUTI segala sesuatu ??? …

… wallahu aĆ¢€™lam bishshawab …

Ini pertama kalinya saya membuka diri untuk menyerapi pemikiran penulis-penulis dari negeri sendiri yang 'tadinya' saya pikir akan lebih banyak biasnya dibanding pemikir-pemikir sekaliber al-Ghazali atau ibn-Miskiwayh, yang 'menurut saya' lebih dekat ke 'Kebenaran'.
Tercengang saya membaca buku ini, sebuah buku multi genre namun secara umum dapat dikategorikan sebagai buku tasawuf, atau tasawuf moderen begitu kata penulisnya, Agus Mustofa seorang ahli nuklir.
Mas Agus berusaha mengungkap suatu peristiwa supranatural yang oleh kita dikenal sebagai peristiwa Isra Mi'raj dalam koridor keilmuan modern. Dalam penjelajahannya kita akan bersentuhan dengan teori-teori fisika anyar dan sahih seperti 'expanding universe' ataupun teori relativitas Einstein. Dan menurut saya ia berhasil, dalam arti masih sejalan dengan nalar dan logika saya.
Dari pembahasan itu melebar ke penjelasan-penjelasan mengenai fenomena yang terkandung dalam AlQuran seperti keberadaan alam-alam ghaib, tujuh lapis langit (atau dalam bahasa ilmiah Mas Agus tujuh dimensi langit), proses pembentukan alam semesta, dll., yang kesemuanya dapat ia buktikan dengan teori-teori fisika modern.
Namun pembahasan tersebut belumlah lengkap tanpa sintesa penerapannya dalam kegiatan peribadatan kita sebagai umat Islam, yang olehnya ia kemas pada bab-bab terakhir yaitu dalam bab-bab mengenai kekhusyuan shalat sebagai media komunikasi (atau interaksi?) utama kita dengan sang pencipta.
Buku ini selain membuka mata saya yang angkuh, alhamdulillah mampu membuat saya merasa lebih nyaman dan sejuk hati. Apakah ini awal pernikahan ilmu pengetahuan dan agama? Apakah apa yang diutarakan penulis dapat dianggap sebagai fakta atau kebenaran itu sendiri? Jangan dulu... seperti halnya metode-metode ilmiah, teori-teori yang muncul tentu saja bersifat sementara (tidak tertutup kemungkinan untuk disanggah atau diperkuat) dan ditegaskan pula oleh sang penulis yang mengutip hadits Nabi bahwa ilmu manusia dan bumi hanyalah setetes air di samudra alam semesta dan Keagungan Sang Pencipta yang Maha Maha Besar.
Buku ini mampu memberikan suatu sudut pandang yang berbeda dari kacamata saya mengenai eksistensi diri saya sendiri, ia memperkaya saya dalam melihat dunia. Mudah-mudahan hal yang sama dapat terjadi pada anda setelah membacanya.

0 komentar:

Poskan Komentar